Fokus utama dari kegiatan ini adalah untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. Dalam gulat, teknik bantingan dan kuncian yang dilakukan secara berulang-ulang dapat memberikan beban berat pada persendian dan tulang belakang. Melalui program Pelatihan P3K Dasar, para peserta diajarkan untuk memahami anatomi tubuh manusia secara lebih fungsional. Mereka belajar bagaimana mendeteksi gejala awal cedera otot, ligamen, hingga penanganan pertama pada kasus patah tulang atau benturan di kepala yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Pengetahuan ini sangat krusial, mengingat seringkali letak pusat latihan di beberapa daerah di Maluku cukup jauh dari fasilitas rumah sakit besar, sehingga pertolongan pertama yang tepat adalah penyelamat nyawa dan karir atlet.
Upaya Antisipasi Cedera yang diajarkan dalam pelatihan ini tidak hanya terpaku pada tindakan setelah insiden terjadi, tetapi juga pada langkah-langkah pencegahan sebelum latihan dimulai. Para pelatih diberikan panduan mengenai pentingnya pemanasan yang spesifik untuk area-area rawan cedera seperti leher, bahu, dan lutut. Selain itu, mereka diajarkan untuk melakukan pengecekan kualitas matras dan lingkungan latihan secara rutin. Standar keselamatan yang tinggi di dalam sasana akan menciptakan disiplin baru bagi para atlet muda. Mereka menjadi lebih sadar bahwa menjaga kebugaran dan menghindari tindakan ceroboh saat latihan adalah bagian dari profesionalisme seorang pejuang gulat sejati.
Kegiatan yang dilakukan oleh Pelatihan P3K Dasar ini juga melibatkan praktisi medis dari dinas kesehatan setempat untuk memberikan simulasi teknik resusitasi jantung paru (RJP) dan penggunaan alat medis dasar. Para peserta juga dibekali pengetahuan tentang manajemen nutrisi dan hidrasi yang berperan penting dalam mencegah kram otot atau kelelahan berlebih yang sering menjadi pemicu cedera. Dengan pemahaman yang komprehensif, seorang pelatih di Maluku kini tidak hanya berperan sebagai pengajar teknik bantingan, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan fisik anak asuhnya. Hal ini memberikan ketenangan bagi para orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya menjadi pegulat.
Dampak jangka panjang dari program ini adalah terciptanya standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang baku di setiap tempat latihan di wilayah Maluku. Ketika sebuah daerah memiliki manajemen risiko yang baik, maka kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk sponsor dan pemerintah, akan meningkat. Olahraga gulat akan dipandang sebagai aktivitas yang dikelola secara modern dan ilmiah, bukan lagi sekadar olahraga keras tanpa perhitungan.
