Filosofi utama dari metode Mongolia ini adalah optimalisasi asupan oksigen ke dalam sel otot melalui teknik pernapasan perut yang dalam dan terkontrol. Di Maluku, para atlet gulat kini mulai diajak melakukan sesi latihan di area perbukitan dan dataran tinggi untuk membiasakan tubuh bekerja dalam kondisi oksigen yang lebih tipis. Fokus utama dari latihan Mongolia ini adalah untuk memperlambat timbulnya asam laktat yang sering kali membuat otot atlet terasa kaku dan lelah di tengah pertandingan. PGSI Maluku meyakini bahwa dengan sistem pernapasan yang benar, seorang atlet tetap mampu mempertahankan kejernihan pikiran dan akurasi teknik meskipun pertandingan memasuki fase-fase kritis.
Salah satu poin unik dari latihan pernapasan ini adalah integrasi antara kekuatan fisik dan meditasi fokus. Para pegulat di Maluku diajarkan untuk mengatur ritme napas mereka agar sinkron dengan gerakan bantingan atau pertahanan. Dalam tradisi gulat Mongolia, napas adalah sumber tenaga utama yang harus dikelola dengan sangat hemat. Oleh karena itu, kurikulum latihan di Maluku kini mencakup sesi khusus di mana atlet berlatih menahan beban sambil tetap menjaga ketenangan napas. Transformasi ini diharapkan dapat memberikan keunggulan stamina bagi para pendekar matras dari timur Indonesia saat berhadapan dengan lawan yang hanya mengandalkan kekuatan otot tanpa manajemen energi yang baik.
Penerapan standar pernapasan ini juga melibatkan aspek adaptasi lingkungan yang ketat. Atlet diwajibkan menjalani latihan fisik di luar ruangan guna melatih sistem pertahanan tubuh terhadap berbagai kondisi cuaca. Mongolia sukses melahirkan pegulat juara dunia karena fisik mereka ditempa oleh alam yang keras. Semangat inilah yang ingin disuntikkan oleh PGSI Maluku kepada para atlet mudanya; bahwa juara tidak hanya dibentuk di dalam sasana, tetapi juga di bawah tempaan lingkungan yang menantang. Langkah adopsi sistem luar negeri ini menunjukkan bahwa Maluku memiliki kemauan besar untuk mencari rahasia-rahasia sukses dari bangsa-bangsa besar gulat demi kejayaan prestasi nasional.
Dukungan dari pengurus daerah di Maluku sangat terlihat melalui penyediaan fasilitas pusat pelatihan di area pegunungan yang lebih dingin dan berketinggian tinggi. Pelatih-pelatih lokal pun diberikan edukasi mengenai sains olahraga tentang bagaimana pengaruh ketinggian terhadap produksi sel darah merah atlet. Maluku ingin menciptakan ekosistem latihan yang profesional dan berbasis data biologis yang akurat. Dengan kondisi dataran tinggi yang tersedia di wilayahnya, Maluku memiliki modal alam yang sangat besar untuk menjalankan metode Mongolia ini secara berkelanjutan tanpa harus pergi jauh ke luar negeri.
