Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,” menemukan relevansi yang kuat dalam era pendidikan modern, khususnya dalam program Guru Penggerak. Esensi dari program ini adalah membimbing potensi murid, bukan menuntut mereka mencapai standar yang sama. Pendekatan ini mengakui bahwa setiap anak adalah individu unik dengan kodrat dan minatnya sendiri, sehingga tugas pendidik adalah menuntun mereka tumbuh sesuai dengan alam dan zamannya.
Membimbing potensi murid berarti guru harus bergeser dari peran sentral sebagai satu-satunya sumber pengetahuan menjadi fasilitator dan mentor. Ini melibatkan pemahaman mendalam terhadap keberagaman siswa. Andi Fahri, seorang guru kimia dan alumni Guru Penggerak, menceritakan bagaimana ia beralih dari sekadar mengejar nilai tinggi menjadi mengarahkan murid-muridnya untuk menemukan minat dan kompetensi mereka sendiri. Dalam sebuah diskusi panel pendidikan yang diselenggarakan pada hari Selasa, 28 Juni 2022, pukul 14.26 WIB, ia menekankan bahwa dengan pendekatan ini, siswa menjadi lebih bersemangat dan mandiri dalam belajar.
Praktik membimbing potensi murid ini diwujudkan melalui berbagai strategi yang diajarkan dalam modul Guru Penggerak, seperti pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran, materi, dan asesmen berdasarkan kebutuhan, minat, dan profil belajar setiap siswa. Misalnya, seorang guru mungkin memberikan proyek yang berbeda kepada kelompok siswa yang berbeda, atau menggunakan berbagai media pembelajaran (visual, auditori, kinestetik) untuk mengakomodasi gaya belajar yang beragam.
Selain itu, asesmen diagnostik menjadi alat penting bagi guru untuk memahami kondisi awal siswa, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan bahkan latar belakang emosional mereka. Dengan data ini, guru dapat merancang intervensi yang tepat dan efektif, memastikan tidak ada siswa yang tertinggal atau merasa tidak termotivasi. Nasmur, guru lain yang menjadi bagian dari gerakan Guru Penggerak, mengungkapkan bahwa dengan “melayani” siswa—memenuhi keinginan belajar mereka—proses pembelajaran menjadi jauh lebih bermakna dan menyenangkan.
Filosofi Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada kemerdekaan belajar anak adalah fondasi yang kokoh bagi pendidikan di Indonesia. Melalui program Guru Penggerak, membimbing potensi murid bukan lagi hanya teori, melainkan praktik nyata yang terus dikembangkan oleh para pendidik. Hal ini diharapkan akan melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki kecerdasan holistik, kreatif, dan mampu berkontribusi sesuai dengan kodrat terbaik mereka.
