Karakter seorang atlet sering kali dibentuk oleh lingkungan tempat ia tumbuh dan besar. Bagi para pemuda di Kepulauan Maluku, hubungan mereka dengan samudra bukan hanya soal mata pencaharian, melainkan telah meresap ke dalam sumsum tulang dan menjadi dasar dari cara mereka memandang kehidupan serta persaingan. Dalam kancah beladiri nasional, pegulat asal wilayah timur ini dikenal memiliki reputasi yang sangat disegani. Mereka memiliki gaya bertarung yang unik, yang jika ditelusuri lebih dalam, berakar kuat pada sebuah Filosofi Laut Pegulat Maluku yang mereka serap dari ganas dan luasnya lautan yang mengelilingi tanah kelahiran mereka.
Bagi masyarakat di Maluku, laut adalah guru yang keras. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, arus yang kuat, dan kedalaman yang misterius. Pengalaman berinteraksi dengan laut ini membentuk mentalitas yang tidak pernah gentar menghadapi tantangan seberat apa pun. Di atas matras gulat, filosofi ini diterjemahkan ke dalam ketenangan yang luar biasa saat ditekan oleh lawan. Seorang pegulat dari daerah ini cenderung tidak mudah panik saat berada dalam posisi sulit, karena bagi mereka, tekanan lawan hanyalah seperti gelombang laut; mereka harus mengikuti alurnya sebentar sebelum akhirnya menemukan celah untuk kembali ke permukaan dan menyerang balik.
Salah satu prinsip laut yang mereka pegang adalah sifat air yang adaptif namun menghancurkan. Air bisa mengikuti bentuk wadahnya, namun di saat yang sama memiliki kekuatan untuk meruntuhkan karang yang paling keras sekalipun. Gaya gulat mereka sangatlah fleksibel; mereka bisa bermain dengan teknik kuncian yang halus namun seketika bisa berubah menjadi sangat agresif dengan kekuatan ledak yang tinggi. Mereka tidak pernah memandang besar kecilnya lawan sebagai halangan. Dalam filosofi mereka, paus yang besar sekalipun bisa terombang-ambing oleh kekuatan arus laut yang tak terlihat. Keyakinan inilah yang membuat mereka selalu tampil dengan kepercayaan diri yang penuh di setiap kompetisi.
Selain itu, kehidupan sebagai pelaut atau masyarakat pesisir melatih indra keseimbangan dan kekuatan genggaman mereka secara alami. Menarik jaring yang penuh dengan ikan atau mendayung perahu melawan arus membutuhkan kekuatan otot punggung dan lengan yang luar biasa. Maka tidak mengherankan jika pegulat dari wilayah ini memiliki cengkeraman yang sering dikeluhkan oleh lawan-lawannya sebagai cengkeraman yang “tidak bisa dilepas”. Kekuatan fisik ini bukan hasil dari angkat beban di gym, melainkan hasil dari perjuangan bertahan hidup di alam yang menuntut ketangguhan fisik setiap harinya.
