Wilayah kepulauan Maluku telah lama dikenal sebagai penghasil atlet-atlet dengan fisik yang tangguh dan memiliki kekuatan alami yang luar biasa. Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat faktor biologis yang sangat berpengaruh, yaitu karakteristik Antropometri. Studi ini fokus pada pengukuran dimensi tubuh manusia, mulai dari tinggi badan, panjang tungkai, lebar bahu, hingga distribusi massa otot. Dalam olahraga gulat, data ini bukan sekadar angka, melainkan variabel penentu dalam menentukan Gaya Gulat yang paling sesuai bagi seorang individu agar mereka dapat memaksimalkan potensi mekanis yang mereka miliki sejak lahir.
Bagi para atlet di Maluku, terdapat kecenderungan Hubungan Postur Tubuh yang sangat spesifik terhadap gaya permainan mereka di atas matras. Atlet yang memiliki anggota gerak bawah (kaki) yang lebih panjang cenderung lebih unggul dalam gaya gulat luar yang mengandalkan sapuan dan penguncian jarak jauh. Sebaliknya, atlet dengan pusat gravitasi yang rendah dan dada yang bidang biasanya lebih dominan dalam gaya gulat dalam yang menuntut kekuatan dorongan dan bantingan jarak dekat. Pemetaan antropometrik ini membantu para pelatih di Maluku untuk melakukan spesialisasi teknik sejak usia dini, sehingga atlet tidak dipaksa melakukan gerakan yang secara anatomis tidak efisien bagi tubuh mereka.
Dalam praktiknya, Postur Tubuh seorang pegulat juga memengaruhi cara mereka mengelola keseimbangan. Atlet Maluku yang memiliki struktur tulang yang padat dan massa otot yang terkonsentrasi di bagian inti tubuh (core) memiliki stabilitas yang lebih baik saat menerima serangan. Analisis antropometri memungkinkan tim kepelatihan untuk menghitung leverage atau daya ungkit yang dihasilkan oleh tangan dan kaki atlet. Dengan mengetahui panjang lengan secara presisi, pelatih dapat mengajarkan sudut cengkeraman yang paling mematikan. Hal inilah yang membuat gaya gulat dari timur Indonesia sering kali terlihat sangat bertenaga dan sulit ditembus oleh lawan yang hanya mengandalkan teknik tanpa dukungan postur yang tepat.
Selain itu, data antropometri juga digunakan untuk menentukan kelas berat badan yang paling ideal bagi atlet. Seringkali, atlet dipaksa turun ke kelas yang terlalu rendah yang justru menguras massa otot dan energinya. Dengan panduan sains antropometri, atlet Maluku dapat diarahkan ke kelas di mana mereka memiliki keunggulan jangkauan (reach advantage) atau keunggulan kepadatan otot tanpa mengorbankan kesehatan.
