Kepulauan Maluku telah lama dikenal sebagai tanah para pemberani yang memiliki bakat alam dalam bidang olahraga fisik. Namun, di balik kegagahan para atletnya, tersimpan cerita pilu sekaligus inspiratif tentang perjuangan hidup yang sangat keras. Bagi banyak pemuda di sana, menjadi seorang pegulat bukan sekadar hobi atau pilihan karier yang prestisius, melainkan sebuah jalan keluar untuk bertahan hidup. Sosok Pahlawan Maluku di arena gulat adalah mereka yang rela mempertaruhkan fisik dan keselamatannya di atas matras setiap harinya. Mereka bertarung demi sesuap nasi untuk menghidupi keluarga di rumah, sekaligus demi menjaga harga diri daerah yang tidak ingin dipandang sebelah mata dalam kancah nasional.
Kondisi ekonomi di beberapa wilayah kepulauan memang masih menjadi tantangan besar. Terbatasnya lapangan kerja membuat banyak anak muda memilih jalur olahraga sebagai cara untuk mendapatkan beasiswa atau peluang menjadi anggota TNI/Polri melalui jalur prestasi. Dalam setiap sesi latihan yang berat di sasana-sasana sederhana di Ambon maupun Tual, para atlet ini membawa beban mental yang jauh lebih berat daripada beban fisik yang mereka angkat. Rasa lapar dan keinginan untuk mengubah nasib keluarga menjadi bahan bakar utama yang membuat mereka mampu bertahan dalam latihan yang sangat disiplin. Mereka menyadari bahwa setiap kemenangan di turnamen berarti ada tambahan biaya sekolah untuk adik mereka atau modal usaha bagi orang tua di kampung halaman.
Ketangguhan mental atlet Maluku ini sudah sangat tersohor. Mereka dikenal tidak pernah gentar menghadapi lawan siapapun, meskipun lawan tersebut memiliki fasilitas latihan yang jauh lebih mewah. Bagi mereka, matras gulat adalah tempat di mana semua orang setara; tidak peduli seberapa kaya atau terkenalnya lawan Anda, di sana hanya teknik dan nyali yang berbicara. Prinsip “Pela Gandong” atau semangat persaudaraan yang kuat juga terbawa ke dalam semangat tim, di mana mereka saling berbagi makanan dan perlengkapan latihan yang terbatas demi kemajuan bersama. Keikhlasan untuk berkorban inilah yang menjadikan mereka atlet yang sangat solid dan sulit dipecahkan kekompakannya saat bertanding dalam format beregu.
