Dalam olahraga gulat, cengkeraman atau remasan tangan adalah senjata yang menentukan keberhasilan sebuah teknik kuncian maupun bantingan. Sekali tangan seorang pegulat mengunci bagian tubuh lawan, kuncian tersebut tidak boleh lepas hingga poin didapatkan. Di Maluku, provinsi yang kaya akan hasil bumi kelapa, Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Maluku mengembangkan metode latihan tradisional yang sangat efektif: melatih kekuatan remasan tangan menggunakan buah kelapa tua yang masih bersabut. Metode ini memanfaatkan tekstur, ukuran, dan kepadatan kelapa untuk menciptakan tenaga genggaman yang luar biasa, yang secara lokal dikenal mampu menghasilkan cengkeraman sekeras baja.
Pelatihan ini dimulai dengan teknik meremas sabut kelapa yang masih utuh. Para atlet diminta untuk mencengkeram dan menekan sabut kelapa sekencang mungkin menggunakan jari-jari mereka. Berbeda dengan alat handgrip modern yang memiliki tekanan statis, sabut kelapa memberikan resistensi yang tidak rata dan memaksa setiap otot kecil di telapak tangan serta lengan bawah bekerja secara maksimal. Proses ini membangun kekuatan remasan isometrik yang sangat dibutuhkan saat pegulat harus menahan serangan lawan atau saat melakukan tarikan pada baju atau anggota tubuh lawan. Latihan ini dilakukan secara repetitif hingga otot lengan bawah (forearm) mengalami kelelahan yang dalam, yang merupakan tanda pertumbuhan jaringan otot baru yang lebih kuat.
Selain meremas sabut, PGSI Maluku juga menerapkan latihan mengangkat kelapa dengan ujung jari (pinching). Kelapa tua yang berat dan licin menuntut koordinasi motorik halus antara ibu jari dan jari-jari lainnya. Kemampuan memegang beban yang bulat dan tidak memiliki pegangan ini sangat identik dengan kondisi nyata di arena gulat, di mana lawan tidak memiliki bagian tubuh yang mudah digenggam seperti gagang barbel. Melalui media kelapa, atlet melatih kekuatan tendon dan ligamen di tangan mereka, menjadikannya lebih tebal dan tahan terhadap tarikan keras. Hasilnya adalah cengkeraman yang sangat dalam dan sulit untuk dilepaskan oleh lawan, memberikan keuntungan psikologis yang besar dalam pertandingan.
Latihan ini juga mencakup aspek fungsional lainnya, yaitu teknik memutar kelapa. Atlet dilatih untuk memutar buah kelapa dengan posisi tangan yang berbeda-beda untuk memperkuat pergelangan tangan. Pergelangan tangan yang kuat adalah kunci untuk melakukan teknik bantingan arm-drag atau saat melakukan kontrol pada kepala lawan. Dengan media alami yang tersedia melimpah di Maluku, para atlet bisa berlatih di mana saja dan kapan saja tanpa harus bergantung pada fasilitas gym yang mahal. Ketersediaan media kelapa ini membuat intensitas latihan kekuatan tangan bisa dijaga secara konsisten, yang merupakan kunci utama dalam pembentukan otot dan kekuatan saraf jangka panjang.
