Kondisi geografis suatu wilayah ternyata memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kapasitas adaptasi fisiologis dan sistem pernapasan para atlet. Mengingat karakteristik wilayah kepulauan yang unik, Pengurus Provinsi Persatuan Gulat Seluruh Indonesia Maluku melakukan penelitian mendalam mengenai sistem transportasi oksigen dalam tubuh. Fokus utama dari PGSI Maluku dalam riset ini adalah mengamati tingkat kejenuhan hemoglobin pada atlet yang melakukan latihan intensitas tinggi di sekitar garis pantai. Kemampuan tubuh dalam menyerap dan mendistribusikan Saturasi Oksigen secara efisien ke jaringan otot sangat menentukan tingkat ketahanan fisik selama pertandingan berat. Oleh sebab itu, pemanfaatan terapi suhu air yang sesuai di kawasan pesisir dapat menjadi sarana pemulihan fisik yang sangat alami bagi otot setelah menjalani program latihan berat.
Atlet yang terbiasa berlatih di lingkungan pesisir dengan tekanan udara permukaan laut umumnya memiliki karakteristik kapasitas vital paru-paru yang baik. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya tingkat kelembapan udara yang dapat memengaruhi proses pelepasan panas tubuh melalui keringat. Kondisi lingkungan seperti ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan suhu inti tubuh agar tidak mengalami overheat.
Melalui pemantauan parameter klinis secara berkala menggunakan alat oksimeter digital, tim medis mengumpulkan data saturasi oksigen sebelum, selama, dan sesudah simulasi pertandingan tiga babak. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pola pemulihan saturasi oksigen berjalan lebih cepat pada atlet yang memiliki kebugaran kardiovaskular yang optimal. Informasi ini sangat berharga untuk menentukan durasi istirahat yang paling efektif di antara sesi tanding.
Penyusunan program nutrisi yang kaya akan zat besi juga ditingkatkan untuk mendukung pembentukan sel darah merah yang bertugas mengikat oksigen secara maksimal. Selain itu, manajemen hidrasi yang ketat diterapkan guna mencegah terjadinya pengentalan darah akibat dehidrasi di lingkungan yang cenderung panas dan lembap. Kombinasi faktor internal dan eksternal ini dikelola secara profesional demi menjaga kebugaran puncak sang atlet.
Kajian ilmiah mengenai profil fisiologis ini memberikan landasan baru dalam merancang strategi kepelatihan yang berbasis pada kearifan dan kondisi lokal daerah. Dengan memaksimalkan potensi adaptasi lingkungan pesisir, kualitas fisik pegulat dari wilayah timur Indonesia diharapkan mampu bersaing kokoh di kancah nasional. Langkah riset ini diharapkan menginspirasi wilayah lain untuk melakukan pendekatan serupa.
